DeArtikel.com – Tasikmalaya – Masyarakat Sunda di Tasikmalaya mewarisi nilai-nilai luhur yang berakar pada prinsip silih asih, silih asah dan silih asuh. Nilai ini bukan sekadar semboyan, melainkan menjadi fondasi dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Dalam praktiknya, nilai tersebut tercermin dalam gotong royong, tata krama, hingga cara masyarakat menyelesaikan konflik.
Sejumlah Pegiat budaya serta komunitas seni di Tasikmalaya berkumpul dan berdialog mengenai jejak leluhur tatar Sunda. Acara Dialog inipun dihadiri anggota DPR RI Ferdiansyah.
Menurut anggota DPR RI Ferdiansyah pembahasan mengenai sejarah Sunda bukan kontek hanya sekadar sundanya, tapi esensinya adalah nyunda-nya. Hal ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mengenai perilaku, pola pikir.
Dimana kaitanya seperti nyakola, nyantri, sopan santun dan sebagainya. “Yang kita mau angkat dalam kontek budaya sunda ini lebih kepada perilakunya,” kata Ferdiansyah disela -sela berdiskusi dengan para pegiat budaya Sunda di Tasikmalaya, Senin 27 April 2026.
Kenapa diadakan di Tasikmalaya, kata dia, karena Tasikmalaya merupakan bagian dari sejarah adanya Sunda ini. “Terbukti dengan adanya berbagai contoh momentum, kenapa koperasi didirikan di Tasikmalaya, kenapa BI ada di Tasikmalaya kenapa lapangan udara adanya di Tasikmalaya, dulu ya bukan saat ini yang sudah ada bandara di Pangandaran dan di Santolo Garut,” katanya.
Awalnya kenapa di Tasikmalaya, lanjut Ferdiansyah, sebenarnya menjadi sebuah sentrum. Dimana Tasikmalaya di tatar sunda ini adalah menjadi sentrum di Priangan Timur.
“Bahkan tadi saya sempat heureuy menyanyikan lagu Halo-Halo Tasik ibukota Priangan Timur. Karena Jawa barat terbagi Sunda 3 klaster, ada Cirebonan, ada Priangan dan ada bogor jakarta dan sekitarnya,” katanya.
“Yang harus kita pahami, memang manjadi pimpjnan di Jawa Barat, satu harus dinamis, dua harus tahu bahwa ini sangat beragam dan yang ketiga harus bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tanpa mengangkat akar budaya sunda,” sambung dia.
Terkahir, lanjut Ferdiansyah, harapannya kepada para peserta bisa menyampaikan itu dalam kehidupan di lingkungan sehari-hari. Bahwa jangan ngomong sunda dalam arti sempit.
Sunda bukan hanya sekadar someah sudah sunda tapi harus diikuti dengan perilaku. Apalagi dengan Tadikmalaya yang menyandang kota santri dan kota resik. Itu kan sebanrnya karakteristik nyundanya itu disitu,” ujarnya.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Tasikmalaya jangan meninggalkan tradisi. Justru harus mengedeoankan dialog antara nilai lama dan pengaruh baru.
Jejak leluhur Tatar Sunda di Tasikmalaya bukanlah sesuatu yang statis. Namun hidup, berkembang, dan berdialog dengan zaman dalam keseharian masyarakatnya.
Tradisi dan modernitas tidak saling meniadakan, melainkan saling mengisi. Di sanalah kekuatan budaya Sunda, mampu berakar kuat di masa lalu, namun tetap lentur menghadapi masa depan.
“Tidak kalah pentingnya pentapan. Supaya Tasikmalaya menetapkan desa adat atau masyarakat adat. Kenapa, itu berkaitan dengan kami sebagai anggota DPR RI bisa mempasilitasi aspirasi – aspirasi yang terkait dengan masyarakat adat,” katanya
“Selama ini Kota Tasikmalaya ada 1 dan garut ada 3 kampung adat. Kalau bisa dilakukan penetapan-penetapan ini sehingga menimbulkan masyarakat adat. Mangga tinggal di Tasikmalaya, tapi harus memakai filosofis, Dimana langit dipijak distu langit dijunjung,” pubgkasnya.***
