Sosbud/Kesehatan

JANTUR: Ketika Teater Menjadi Pengetahuan dan Perlawanan

DeArtikel.com – Tasikmalaya – Di tengah arus modernisasi yang sering kali meminggirkan tradisi dan memutus relasi manusia dengan alam, sebuah pertunjukan teater hadir bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai peristiwa pengetahuan. Pertunjukan itu bernama “Jantur”, sebuah karya teater yang digagas oleh Budi Riswandi—yang akrab disapa Bode—promovendus Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Melalui pementasan ini, Bode mencoba menyingkap kembali lapisan makna yang tersembunyi dalam cerita rakyat. Baginya, cerita rakyat bukan sekadar kisah lama yang diselimuti takhayul, melainkan ruang penyimpan nilai-nilai kultural yang menghubungkan manusia dengan alam. Nilai-nilai itu kini sering terpinggirkan oleh logika pembangunan yang serba cepat dan eksploitatif.
“Jantur” berangkat dari Legenda Dadaha, sebuah cerita rakyat yang oleh Bode dibaca kembali sebagai narasi konflik antara komunitas agraris dengan kekuasaan yang mengatasnamakan pembangunan. Dalam tafsirnya, legenda tersebut merepresentasikan pertarungan antara manusia yang hidup selaras dengan alam dan kekuatan ekonomi-politik yang melihat alam sebagai objek eksploitasi.
Fenomena penggusuran kampung adat, rusaknya resapan air, dan perebutan hutan untuk kepentingan bisnis menjadi latar sosial yang menguatkan pembacaan ini. Banjir bandang, longsor, kerawanan pangan, dan kecemasan ekologis lain kerap dianggap sebagai “murka Tuhan”. Padahal, dalam perspektif yang lebih kritis, semua itu merupakan konsekuensi dari pilihan-pilihan manusia sendiri. Melalui “Jantur”, Bode menghadirkan teater sebagai medium refleksi atas krisis tersebut.

Teater sebagai Metode Pengetahuan
Pementasan “Jantur” bukan sekadar karya artistik. Ia merupakan bagian dari diseminasi artefak penelitian berbasis seni (Art-Based Research) yang dilakukan Budi Riswandi dalam studi doktoralnya di Universitas Pendidikan Indonesia.
Dalam kerangka penelitian itu, Legenda Dadaha diperlakukan sebagai data budaya, yang kemudian diolah melalui pendekatan intermedialitas: menggabungkan teks cerita rakyat, dramaturgi modern, serta pengalaman sosial kontemporer menjadi satu bentuk pertunjukan teater. Proses kreatif ini melibatkan lebih dari 100 awak panggung, berasal dari UKM Teater 28, Legion 28, dan Sanggar Seni Asta Mekar. Kolaborasi lintas komunitas ini menunjukkan bahwa penelitian seni tidak berhenti di ruang akademik, tetapi juga hidup dalam praktik kolektif.
Sejak tahap awal, mulai dari penulisan naskah, penyusunan buku Apa dan Bagaimana Alih Wahana, hingga proses pementasan, Budi secara intens berdiskusi dengan para akademisi dan praktisi. Ia mendapat bimbingan langsung dari Prof. Dr. Sumiyadi, M.Hum. dan Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., yang bertindak sebagai promotor dan kopromotor disertasinya di UPI Bandung. Selain itu, berbagai diskusi juga dilakukan dengan penulis naskah, kritikus teater, serta pengamat seni pertunjukan. Semua itu dilakukan untuk menegaskan satu hal: teater dapat menjadi modus penghasil pengetahuan, bukan sekadar hiburan.

Parkiran yang Berubah Menjadi Sawah
Pementasan “Jantur” digelar pada 20 Maret 2026 pukul 20.00 WIB di lapangan parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas Siliwangi (UNSIL) Tasikmalaya. Lokasi yang biasanya hanya menjadi tempat kendaraan diparkir, malam itu disulap menjadi lanskap persawahan. Penonton disuguhi ruang imaji yang kuat: sawah, tanah, dan kehidupan agraris yang perlahan diguncang oleh mesin-mesin pembangunan.
Puncak dramatik terjadi ketika eskavator dan dump truck, dan orang-orang proyek benar-benar muncul di tengah arena, menghancurkan ruang visual yang telah dibangun sebelumnya. Suara mesin berat dan pergerakan alat itu menjadi metafora keras tentang bagaimana pembangunan sering kali meruntuhkan ruang hidup masyarakat. Adegan tersebut bukan sekadar efek teatrikal. Ia menjadi teror simbolik yang memaksa penonton merasakan langsung konflik yang sedang dipentaskan.
Tak heran jika malam itu ratusan orang memadati arena. Apresiator datang dari berbagai kalangan: pejabat kampus, Wakil Wali Kota, anggota dewan, sivitas akademika UNSIL, hingga masyarakat umum. Dalam suasana yang tumpah ruah itu, batas antara panggung dan penonton menjadi kabur.

Etnoteater sebagai Teater Realitas
Promotor disertasi Bode, Prof. Dr. Sumiyadi, M.Hum., menilai pementasan ini sebagai contoh kuat dari etnoteater, sebuah bentuk teater yang berpijak pada realitas sosial.
Setelah menyaksikan pementasan Jantur karya Budi Riswandi—yang akrab disapa Bode itu—saya melihat bahwa karya ini tidak semata-mata hadir sebagai peristiwa estetika. Jantur lebih tepat dipahami sebagai teater realitas, sebuah bentuk yang dekat dengan konsep ethnodrama atau ethnoteater sebagaimana dikembangkan oleh Johnny Saldaña dan juga dibicarakan oleh Mia Perry. Dalam kerangka itu, teater bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan medium representasi sosial yang lahir dari pengalaman nyata masyarakat.
Saldaña mengaitkan etnodrama dengan berbagai praktik teater yang berorientasi pada perubahan sosial seperti theatre of the oppressed, teater untuk keadilan sosial, maupun sosiodrama. Dalam tradisi tersebut, teks dan pertunjukan tidak semata-mata diciptakan dari imajinasi artistik, tetapi dari narasi-narasi kehidupan yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi partisipatif, catatan lapangan, jurnal reflektif, hingga berbagai artefak budaya. Hasilnya adalah karya seni yang berakar pada realitas sosial yang konkret.
Dalam konteks itulah saya melihat Jantur. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan pengalaman artistik, tetapi juga advokasi kultural bagi masyarakat urban yang kerap tersingkir oleh agenda tata kota dan pembangunan yang eksploitatif. Mereka sering kali diposisikan seolah tidak memiliki saham dalam kemakmuran kota yang justru mereka hidupi setiap hari. Jantur menghadirkan suara mereka, suara yang selama ini berada di pinggiran wacana pembangunan.
Saya juga melihat satu hal yang menarik dari pendekatan pementasan ini. Para aktor Jantur tidak memposisikan penonton sebagai pihak yang jauh atau asing dari persoalan yang dipentaskan. Justru sebaliknya, mereka membangun relasi dialogis dan komunikatif, bahkan mengundang partisipasi audiens. Dalam perspektif etnoteater, ini adalah strategi yang sangat penting, karena persoalan yang diangkat bukanlah semata persoalan para aktor, melainkan persoalan bersama sebagai masyarakat.
Karena itu, pada titik tertentu saya merasa bahwa dalam Jantur batas antara aktor dan penonton menjadi cair. Kita semua yang hadir di ruang pertunjukan itu seolah berada dalam satu ruang liminal ruang di antara dua dunia: dunia kekuasaan yang menentukan arah zaman, dan dunia kenestapaan masyarakat yang kerap terpinggirkan oleh arus pembangunan. Dalam ruang liminal itu, semua yang hadir bukan lagi sekadar penonton, tetapi juga aktor sosial yang ikut merasakan, memikirkan, dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap realitas yang sedang dipentaskan.”

Teater Tanpa Penonton
Dalam konsep dramaturginya, Bode juga menolak memposisikan penonton sebagai pihak luar. Para aktor “Jantur” justru didorong untuk bersikap dialogis, komunikatif, bahkan mengajak audiens terlibat langsung. Masalah yang diangkat dalam “Jantur” tentang pembangunan, marginalisasi masyarakat urban, dan krisis ekologis, bukanlah persoalan para aktor semata. Ia adalah persoalan bersama. Karena itu, dalam ruang pertunjukan “Jantur”, tidak ada penonton dalam arti konvensional. Semua yang hadir menjadi bagian dari peristiwa teater. Mereka berada dalam ruang liminal: di antara zona kekuasaan yang mengatasnamakan pembangunan dan zona kenestapaan masyarakat yang tersingkir oleh agenda tata kota.
Keberanian Promovendus menghadirkan pementasan sebesar ini juga tidak lepas dari dukungan institusi. Sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Siliwangi, ia mendapatkan dukungan fasilitas dan ruang dari kampus tempatnya mengabdi. Kolaborasi antara Universitas Pendidikan Indonesia sebagai institusi akademik tempat Budi Riswandi menempuh studi doktoral dan Universitas Siliwangi sebagai ruang praksis tempat ia bekerja menunjukkan bagaimana dunia akademik dan praktik seni dapat saling menguatkan.
Melalui “Jantur”, Budi Riswandi bukan hanya menyajikan sebuah pertunjukan teater. Ia menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium penelitian, refleksi sosial, sekaligus advokasi budaya. Dan pada malam itu, di sebuah lapangan parkir yang berubah menjadi sawah imajiner, teater kembali mengingatkan manusia pada satu hal sederhana: bahwa hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya tidak pernah bisa dipisahkan oleh logika pembangunan semata.***

Anda mungkin juga suka...