Deartikel.com – Tasikmalaya – Di balik kemegahan sebuah visual, terdapat peran tata artistik yang bertugas membangun “semesta” cerita agar terasa hidup dan meyakinkan.
Seratusan pegiat perfilman dan 30 komunitas film ikuti diskusi film dan pemutaran film peran artistik dalam membangun dunia film yang diselenggarakan di Horison Tasikmalaya, Sabtu 7 Maret 2026.
“Secara tidak langsung memperingati hari film nasional yang akan jatuh pada 30 maret. Memang jika lihat waktunya masih agak jauh. Namun kita coba tarik lebih awal pelaksanaanya sekarang,” kata anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah disela-sela diskusi.
Karena disksusi ini, kata dia, dalam kontek penampilan, dalam kontek artistik kerap kali terlewatkan. Sehingga pihaknya memandang penting untuk membedahnya.
Ia menyebut, dalam diskusi ini pihaknya menggandeng dari Kementerian Kebudayaan. Selain itu, kegiatan ini juga diinisiasi oleh para pegiat film dan juga aspirasi dari masyarakat Tasikmalaya.
Dimana dalam hak ini perlunya pemahaman tentang artisitik dalam dunia perfilman. “Karena artistik ini, suka tidak suka mempengaruhi dalam suasana dalam pembuatan film. Propertinya juga kemudian masalah tata cahanya dan sebagainya,” katanya.
Peran artistik adalah menterjemahkan naskah menjadi ruang fisik. Mulai dari pemilihan warna, properti, hingga detail kecil di latar belakang, semuanya berfungsi untuk memperkuat emosi penonton.
Menjadi hal yang sangat penting dalam pembuatan film artsistik ini. Ia menegaskan, bahwa film bukan hanya komoditas hiburan, tetapi juga produk budaya yang memiliki nilai strategis bagi negara.
“Dan ini menjadi bagian dari konsep yang terpisahkan dalam sebuah dari skenario besar untuk mensukseskan pembuatan film yang akhirnya bisa diterima oleh masyarakat,” ujar dia.
Ferdiasyah yang vokal terhadap isu pendidikan dan kebudayaan, ia menyoroti dukungan infrastruktur. Dimana perlunya sebaran bioskop yang lebih merata di seluruh daerah Indonesia agar akses menonton tidak hanya terpusat di kota besar.
​Meski sedang mengalami tren positif dalam jumlah penonton, industri film tanah air masih menghadapi kerikil tajam yang perlu diselesaikan secara kolektif
Ia menyoroti bahwa anak muda saat ini lebih mengenal dan menggemari film luar negeri dibandingkan film karya anak bangsa.
Hal ini perlu adanya sertifikasi kompetensi bagi pelaku film agar kualitas industri film nasional lebih diakui dan terstandarisasi.
Ferdiansyah aktif mendorong penyelenggaraan diskusi (FGD) film-film yang memuat nilai-nilai kebangsaan, budaya, dan kearifan lokal. Hal ini untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri.
Dalam pandangannya, ada tuntunan dan tontonan. Dimana industri film adalah industri kreatif yang harus digarap dengan serius, karena selain menghibur, film juga berperan strategis dalam membentuk karakter bangsa dan meningkatkan perekonomian.***
